Kembali,
berita dan tindak intoleran terjadi di negara yang berazaskan Pancasila dan
adanya semboyan negara yang mengagumkan Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah rumah
dirusak karena sedang digunakan untuk berdoa bersama. Penghuni dan tamunya
dianiaya. Mengapa toleransi masih saja menjadi pekerjaan rumah dan keprihatinan
yang besar?
Pendidikan
memegang peran, karena pendidikan yang ada tidak pernah memberikan kepada anak
didik, sekaligus anak negeri untuk mengakomodasi perbedaan. Intimidasi dan
diskriminasi oleh guru terhadap kaum minoritas dinampakkan dengan jelas dan
gamblang. Dalam sistem evaluasi dengan menggunakan pilihan ganda anak siswa
sudah diberikan pilihan yang seragam. Evaluasi sistem essai dan jawaban panjang
menjadikan anak kreatif dan berani berbeda dalam koridor yang sama. Keseragaman
dan tidak ada perbedaan dipupuk dan ditumbuhkembangkan.
Secara
kodrat Tuhan menciptakan minimal dua, pagi sore, siang malam, laki-laki
perempuan, bumi langit, mengapa masih ada saja kelompok-kelompok picik selalu
memaksakan keseragaman. Pendidikan politik yang selalu menekankan perbedaan
memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Yang seharusnya mengakomodasi
perbedaan diseragamkan, yang pada dasarnya memberikan ruang kesamaan selalu
saja dicari-cari kesamaannya.
Keteladanan
dan pendidikan perlu lebih banyak didorong agar menjadi panglima perubahan dan
perbaikan berbangsa dan bernegara. Perbedaan itu indah, persamaan itu anugerah.
Coba bayangkan saja sekiranya dunia ini hanya ada satu jenis, apapun itu, apa
yang akan terjadi? Manusia akan mati karena bosan. Makan saja mencari variasi,
namun mengapa saat ada perbedaan diintimidasi dan dipaksakan untuk sama.
Bapa-bapa
bangsa, mendirikan di atas seluruh perbedaan yang dijadikan kekuatan. Sekelompok
orang ingin menjadikan satu untuk menjadi kelemahan. Sudah katakan cukup
menjelek-jelekan pihak lain, kutuk, hujat, dan celaan itu masa lalu. Tatap masa
depan penuh berkat, keindahan di dalam perbedaan, dan membangun di dalam
keragaman. Kekuatan kita adalah perbedaan mengapa harus dipaksakan untuk sama?
Mari
kita renungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar