Anak sekolah,
sesaat selesai pengumuman mengadakan konvoi kendaraan yang biasanya melanggar
aturan berlalu lintas. Sebelum konvoi mereka mengadakan acara menandatangani
baju rekannya, dulunya seperti itu sebagai kenangan, sekarang bergeser menjadi
mengecat dengan at semprot. Mengapa sepertinya eforia dan kegembiraan yang
meluap-luap itu terjadi?
Sistem pendidikan
secara sadar atau tidak sadar telah membangun dan meletakkan kelulusan sebagai
tujuan akhir pendidikan. (pasti akan
disangkal dan disanggah beramai-ramai oleh pemangku kebijakan). Guru-guru
bidang studi ujian nasional merasa seperti raja yang menentukan hidup mati
siswa, seperti memiliki hak khusus untuk berbuat banyak bagi sekolah. Anak didik
takut dengan mereka ini. Mata pelajaran ujian nasional memiliki
privilese-privilese khusus, ada jam tambahan dengan berbagai konseskuensinya. Sekolah-sekolah
tertentu semester dua kelas 9 atau 12, pelajaran hanya pelajaran ujian
nasional, nilai pelajaran lain ngaji
(ngarang biji). Ujian nasional menjadi dewa yang harus dijunjung tinggu
dengan boleh meninggalkan pelajaran lainnya.
Sekolah menegangkan
dan melelahkan. Pendidikan yang sejati mendidik peserta didik mendapatkan nilai
dan pengetahuan yang akan berguna bagi kehidupannya. Rela atau tidak rela
pendidikan kita masih berorientasi pada nilai akademik dengan muara ujian
nasional. Sebatas nilai di atas kertas. Karena yang dipelajari sesuatu yang di
luar dirinya menjadikan siswa-siswi kering hatinya, yang membawa konsekuensi
kekerasan, pencarian pelampiasan dan ketika ujian usia eforia berlebihan.
Kelulusan sebenarnya
hanya sedikit bagian dari proses pembelajaran. Masih jauh lebih besar dan berat
yang menghadang di depan sana. Mau melanjutkan, melanjutkan ke mana, bagaimana
harus dipenuhi, mampu tidak? Dan banyak tempat mencurahkan energi yang lebih
berdaya guna. Kalau tidak hendak melanjutkan, mau bekerja, bekalnya cukup
tidak, kerja apa, dan sebagainya.
Sudah saatnya
menanamkan bahwa kululusan bukan tujuan namun sarana yang akan mengantar ke
masa depan dengan lebih baik. Sarana berbeda dengan tujuan. Sarana, digunakan untuk mencapai tujuan itu dengan
efektif dan efisien. Kalau sarana dianggap sebagai tujuan, bagaimana melangkah
dengan fokus yang jelas?
Mari kita
renungkan dan perbaiki bersama-sama sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar