Rabu, 21 Mei 2014

Kelulusan suatu Tujuan


Anak sekolah, sesaat selesai pengumuman mengadakan konvoi kendaraan yang biasanya melanggar aturan berlalu lintas. Sebelum konvoi mereka mengadakan acara menandatangani baju rekannya, dulunya seperti itu sebagai kenangan, sekarang bergeser menjadi mengecat dengan at semprot. Mengapa sepertinya eforia dan kegembiraan yang meluap-luap itu terjadi?
Sistem pendidikan secara sadar atau tidak sadar telah membangun dan meletakkan kelulusan sebagai tujuan akhir pendidikan. (pasti akan disangkal dan disanggah beramai-ramai oleh pemangku kebijakan). Guru-guru bidang studi ujian nasional merasa seperti raja yang menentukan hidup mati siswa, seperti memiliki hak khusus untuk berbuat banyak bagi sekolah. Anak didik takut dengan mereka ini. Mata pelajaran ujian nasional memiliki privilese-privilese khusus, ada jam tambahan dengan berbagai konseskuensinya. Sekolah-sekolah tertentu semester dua kelas 9 atau 12, pelajaran hanya pelajaran ujian nasional, nilai pelajaran lain ngaji (ngarang biji). Ujian nasional menjadi dewa yang harus dijunjung tinggu dengan boleh meninggalkan pelajaran lainnya.
Sekolah menegangkan dan melelahkan. Pendidikan yang sejati mendidik peserta didik mendapatkan nilai dan pengetahuan yang akan berguna bagi kehidupannya. Rela atau tidak rela pendidikan kita masih berorientasi pada nilai akademik dengan muara ujian nasional. Sebatas nilai di atas kertas. Karena yang dipelajari sesuatu yang di luar dirinya menjadikan siswa-siswi kering hatinya, yang membawa konsekuensi kekerasan, pencarian pelampiasan dan ketika ujian usia eforia berlebihan.
Kelulusan sebenarnya hanya sedikit bagian dari proses pembelajaran. Masih jauh lebih besar dan berat yang menghadang di depan sana. Mau melanjutkan, melanjutkan ke mana, bagaimana harus dipenuhi, mampu tidak? Dan banyak tempat mencurahkan energi yang lebih berdaya guna. Kalau tidak hendak melanjutkan, mau bekerja, bekalnya cukup tidak, kerja apa, dan sebagainya.
Sudah saatnya menanamkan bahwa kululusan bukan tujuan namun sarana yang akan mengantar ke masa depan dengan lebih baik. Sarana berbeda dengan tujuan. Sarana,  digunakan untuk mencapai tujuan itu dengan efektif dan efisien. Kalau sarana dianggap sebagai tujuan, bagaimana melangkah dengan fokus yang jelas?

Mari kita renungkan dan perbaiki bersama-sama sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar