Rabu, 14 Mei 2014

Ambisi

Suatu saat saya mendengar, saya dikatakan sebagai seorang ambisius. Nada yang ada adalah negatif. Benarkah ambisius atau ambisi itu negatif? Ambisi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diberi arti sebagai keinginan, hasrat, nafsu yang besar untuk memperoleh sesuatu. Apakah hasrat, keinginan itu buruk secara moral. Sama sekali tidak. Label negatif, buruk, jelek, dan jahat, adalah pergeseran nilai atau makna. Pemakaian kata ambisius untuk menerangkan hasrat yang berlebihan dengan tidak diikuti nilai etis menyebabkan kata ambisi yang awalnya netral menjadi negatif. Sebagai contoh, ambisius benar orang itu, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Tentu berbeda dengan, penuh semangat dan ambisi untuk mewujudkan niatnya menjadi presiden tanpa melupakan akar kerakyatan yang mendukungnya.
Ambisi tanpa etika, atau ambisius non etis, tentu sangat buruk. Etika memberikan koridor bagi pribadi yang hendak mencapai tujuannya. Tujuan yang tidak dibarengi dengan ambisi, sama juga omong kosong, karena tidak ada gairah, semangat, hasrat untuk mencapainya. Sama juga berencana pergi tetapi tetap duduk di rumah. Ambisi merupakan daya dorong, daya juang di dalam memperoleh dan menggapai tujuan. Tanpa boleh melupakan etika. Etika menjadikan ambisi tersebut berjalan sebagaimana mestinya, tanpa merugikan orang lain, berbuat sesuai dengan aturan, tidak menghalalkan segala cara. Tidak ada nilai etis itu benar bisa salah, dan salah menjadi benar. Nilai etis hanya mengenal benar adalah benar dan salah ialah salah.
Ambisius yang perlu mendapatkan perhatian adalah yang ambisi yang dibarengi dengan ketamakan. Ketamakan dengan menghalalkan segala cara, sikut kanan sikut kiri yang penting aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Jalan dan proses bukan sesuatu yang penting, karena hanya menjadi sarana mencapai tujuan dengan apapun caranya. Cara baik-benar tidak menjadi pertimbangan, salah dan buruk pun dipilih saat cara, proses, sarana itu membawa kepada tujuan yang diimpi-impikan.

Ambisi tidak salah, dan juga tidak buruk. Kerakusan dan ketamakan yang membenarkan segala cara, baik dan benar tidak menjadi pertimbangan, selain hasil akhir. Marilah kita gunakan kata sebagaima adanya tanpa memberi label negatif, karena apa yang kita labelkan dapat membuat orang tidak berani memiliki impian kalau tidak memiliki jiwa yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar