Suatu
saat saya mendengar, saya dikatakan sebagai seorang ambisius. Nada yang ada
adalah negatif. Benarkah ambisius atau ambisi itu negatif? Ambisi, dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, diberi arti sebagai keinginan, hasrat, nafsu yang besar
untuk memperoleh sesuatu. Apakah hasrat, keinginan itu buruk secara moral. Sama
sekali tidak. Label negatif, buruk, jelek, dan jahat, adalah pergeseran nilai
atau makna. Pemakaian kata ambisius untuk menerangkan hasrat yang berlebihan dengan
tidak diikuti nilai etis menyebabkan kata ambisi yang awalnya netral menjadi
negatif. Sebagai contoh, ambisius benar
orang itu, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Tentu
berbeda dengan, penuh semangat dan ambisi
untuk mewujudkan niatnya menjadi presiden tanpa melupakan akar kerakyatan yang
mendukungnya.
Ambisi
tanpa etika, atau ambisius non etis, tentu sangat buruk. Etika memberikan
koridor bagi pribadi yang hendak mencapai tujuannya. Tujuan yang tidak
dibarengi dengan ambisi, sama juga omong kosong, karena tidak ada gairah,
semangat, hasrat untuk mencapainya. Sama juga berencana pergi tetapi tetap
duduk di rumah. Ambisi merupakan daya dorong, daya juang di dalam memperoleh
dan menggapai tujuan. Tanpa boleh melupakan etika. Etika menjadikan ambisi
tersebut berjalan sebagaimana mestinya, tanpa merugikan orang lain, berbuat
sesuai dengan aturan, tidak menghalalkan segala cara. Tidak ada nilai etis itu
benar bisa salah, dan salah menjadi benar. Nilai etis hanya mengenal benar
adalah benar dan salah ialah salah.
Ambisius
yang perlu mendapatkan perhatian adalah yang ambisi yang dibarengi dengan
ketamakan. Ketamakan dengan menghalalkan segala cara, sikut kanan sikut kiri
yang penting aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Jalan dan proses bukan
sesuatu yang penting, karena hanya menjadi sarana mencapai tujuan dengan apapun
caranya. Cara baik-benar tidak menjadi pertimbangan, salah dan buruk pun
dipilih saat cara, proses, sarana itu membawa kepada tujuan yang
diimpi-impikan.
Ambisi
tidak salah, dan juga tidak buruk. Kerakusan dan ketamakan yang membenarkan
segala cara, baik dan benar tidak menjadi pertimbangan, selain hasil akhir.
Marilah kita gunakan kata sebagaima adanya tanpa memberi label negatif, karena
apa yang kita labelkan dapat membuat orang tidak berani memiliki impian kalau
tidak memiliki jiwa yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar