Beberapa hal yang disorotnya yakni
program desa berdering, penetrasi internet ke desa melalui program PLIK/MPLIK
(Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan), bisnis IT mencapai Rp 400 triliun,
efektivitas pemblokiran konten negatif di internet yang mencapai 1 juta situs,
dan jumlah ponsel yang beredar mencapai 250 juta. Indikator-indikator itu
diklaim Tifatul bagaimana pesatnya kemajuan masyarakat Indonesia di bidang IT.
Kutipan dari Kompas.Com, 5 Mei 2014:6:30
Berita kemajuan dan perkembangan
teknologi yang luar biasa, dan patut mendapat apresiasi yang baik dan
membanggakan. Perlu dicermati dan dibiasakan bagi pejabat Republik ini adalah
belum adanya sama sekali evaluasi dalam bentuk kekurangan dan hasil yang tidak
tercapai dari program yang hendak diraihnya.
Menteri yang getol dengan kampanye
anti konten dan situs porno ini malah tidak tahu apa-apa mengenai FB dan Twitter digunakan sebagai
germo dan lokalisasi dunia maya, dan mirisnya dilakukan oleh generasi muda,
pelajar, sekolah menengah dan mahasiswa. Belum ada sama sekali penjelasan dari
menteri bersangkutan berkaitan dengan hal ini. Konten situs porno dihapus
seperti memotong rumput tanpa mencabut akarnya yang menjalar ke mana-mana. Pornografi
berasal dari otak manusia. Perlu pembenahan adalah otak dan mental serta
mentalnya terlebih dahulu baru berbicara situs yang hanya sarana semata. Penggunakan
media sosial dan media on-line
sebagai sarana fitnah, hujat, provokasi tanpa bentuk yang menggelisahkan,
batasan penggunaan internet pada anak-anak, alienasi manusia satu sama lain,
karena asyikk dengan dunia maya, yang benar-benar maya, karena belum adanya
aturan yang jelas dan tegas. Hukum mengenai dunia maya juga masih tajam ke
bawah, dan tidak ada tajinya ke atas. Bagaimana banyak orang kecil dijerat
dengan hukum TI, sedang pejabat-pejabat dan orang berduit dapat seenaknya
menggunakan untuk menjelekkan lawannya.
Televisi sebagai sarana penyiaran terlalu
dominan menyiarkan hal-hal yang berbau kekerasan. Pemberitaan dan pembahasan
kekerasan apapun bentuknya selalu diulang-ulang dan bahkan live. Contoh konkret masalah penggrebegan teroris beberapa tahun
lalu. Kekerasan bukan dibalas dengan kekerasan. Media kita sudah terlalu banyak
memberikan asupan kekerasan dalam berbagai bentuknya.
HP, smartphone, tablet, provider telekomomunikasi,
pencipta dan pengelola media sosial, itu yang mendapat keuntungan dari bangsa
Indonesia dan bangsa kita belum mendapatkan keuntungan signifikan dari itu
semua.
Kemajuan yang diklaim menteri Kominfo
memang benar adanya, bagaimana masyarakat kita selalu masuk pada jajaran papan
atas untuk menjadi anggota media sosial internasional. Namun apakah memberikan
bantuan dan perkembangan yang lebih fundamental dan substansial dari penggunaan
berbagai media tersebut? Nampaknya perkembangan itu masih sebatas kuantitas dan
belum sampai menjadi pertumbuhan kualitas. Pasar dari negara-negara maju yang
menciptakan kemajuan. Kita masih sebatas penonton dan ndelok, saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar