Senin, 05 Mei 2014

Kemajuan yang Menyedihkan

Beberapa hal yang disorotnya yakni program desa berdering, penetrasi internet ke desa melalui program PLIK/MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan), bisnis IT mencapai Rp 400 triliun, efektivitas pemblokiran konten negatif di internet yang mencapai 1 juta situs, dan jumlah ponsel yang beredar mencapai 250 juta. Indikator-indikator itu diklaim Tifatul bagaimana pesatnya kemajuan masyarakat Indonesia di bidang IT. Kutipan dari Kompas.Com, 5 Mei 2014:6:30
Berita kemajuan dan perkembangan teknologi yang luar biasa, dan patut mendapat apresiasi yang baik dan membanggakan. Perlu dicermati dan dibiasakan bagi pejabat Republik ini adalah belum adanya sama sekali evaluasi dalam bentuk kekurangan dan hasil yang tidak tercapai dari program yang hendak diraihnya.
Menteri yang getol dengan kampanye anti konten dan situs porno ini malah tidak tahu apa-apa mengenai FB dan Twitter  digunakan sebagai germo dan lokalisasi dunia maya, dan mirisnya dilakukan oleh generasi muda, pelajar, sekolah menengah dan mahasiswa. Belum ada sama sekali penjelasan dari menteri bersangkutan berkaitan dengan hal ini. Konten situs porno dihapus seperti memotong rumput tanpa mencabut akarnya yang menjalar ke mana-mana. Pornografi berasal dari otak manusia. Perlu pembenahan adalah otak dan mental serta mentalnya terlebih dahulu baru berbicara situs yang hanya sarana semata. Penggunakan media sosial dan media on-line sebagai sarana fitnah, hujat, provokasi tanpa bentuk yang menggelisahkan, batasan penggunaan internet pada anak-anak, alienasi manusia satu sama lain, karena asyikk dengan dunia maya, yang benar-benar maya, karena belum adanya aturan yang jelas dan tegas. Hukum mengenai dunia maya juga masih tajam ke bawah, dan tidak ada tajinya ke atas. Bagaimana banyak orang kecil dijerat dengan hukum TI, sedang pejabat-pejabat dan orang berduit dapat seenaknya menggunakan untuk menjelekkan lawannya.
Televisi sebagai sarana penyiaran terlalu dominan menyiarkan hal-hal yang berbau kekerasan. Pemberitaan dan pembahasan kekerasan apapun bentuknya selalu diulang-ulang dan bahkan live. Contoh konkret masalah penggrebegan teroris beberapa tahun lalu. Kekerasan bukan dibalas dengan kekerasan. Media kita sudah terlalu banyak memberikan asupan kekerasan dalam berbagai bentuknya.
HP, smartphone, tablet, provider telekomomunikasi, pencipta dan pengelola media sosial, itu yang mendapat keuntungan dari bangsa Indonesia dan bangsa kita belum mendapatkan keuntungan signifikan dari itu semua.
Kemajuan yang diklaim menteri Kominfo memang benar adanya, bagaimana masyarakat kita selalu masuk pada jajaran papan atas untuk menjadi anggota media sosial internasional. Namun apakah memberikan bantuan dan perkembangan yang lebih fundamental dan substansial dari penggunaan berbagai media tersebut? Nampaknya perkembangan itu masih sebatas kuantitas dan belum sampai menjadi pertumbuhan kualitas. Pasar dari negara-negara maju yang menciptakan kemajuan. Kita masih sebatas penonton dan ndelok, saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar